PHDI SIDOARJO

Tuesday, 3 August 2010

Makanlah Setelah Ber "Yadnya"

Oleh : Drs. I Ketut Wiana, M.Ag

Dewanrsin manusyamsca
pitrn grhyasca dewatah
pujayitwa tatah pascad
Grhastha sesabhugbha
(Manawa Dharmasastra III.117)

Maksudnya:
Setelah melakukan persembahan kepada Dewa manifestasi Tuhan, kepada para Resi, leluhur yang telah suci (Dewa Pitara), kepada Dewa penjaga rumah dan juga kepada tamu. Setelah itu barulah pemilik rumah makan. Dengan demikian ia lepas dan dosa.

UPACARA masaiban dalam tradisi umat Hindu di Bali sudah berlangsung sejak ratusan tahun. Namun sampai sekarang masih ada banyak perbedaan persepsi di kalangan umat Hindu tentang upacara sederhana itu. Upacara masaiban adalah tradisi untuk melakukan persembahan berupa sesajen atau banten setelah selesai memasak. Sesajen masaiban itu berbentuk sejumput nasi dengan menggunakan alas sepotong daun pisang atau sarana lain. Nasi itu dilengkapi lauk-pauk yang ada atau dengan sedikit garam saja. Mengenai makna upacara ini umumnya sudah ada persamaan persepsi terutama di kalangan intelektual Hindu. Dalam Bhagawad Gita III.13 dinyatakan, makanlah setelah melakukan yadnya. Dalam sloka Bhagawad Gita itu dinyatakan dengan istilah yadnyasistasinah, yang artinya “makanlah setelah beryadnya”. Yang makan setelah ber-yadnya akan lepas dan dosa. Mereka yang makan tanpa ber-yadnya sebelumnya sesungguhnya makan dosanya sendiri. Yang mungkin masih banyak perbedaan tafsir adalah bagaimana memaknai lebih lanjut ajaran ber-yadnya sebelum makan dalam pelaksanaan nyatanya di kehidupan sehari-hari. Demikian juga soal bentuk banten masaiban. meskipun masih ada sedikit perbedaan, tidak begitu dimasalahkan oleh umat. Yang sering dimasalahkan adalah di mana banten itu mesti dipersembahkan.
Ada yang mengacu pada Manawa Dharmasastra III.68 dan 69. Dalam sloka 68 dinyatakan, dosa manusia yang ditimbulkan oleh litha tempat penyembelihan yaitu tempat memasak, batu pengasah, sapu, lesung dengan alunya dan tempayan tempat air. Dan sini, lalu ada yang menganjurkan agar banten saiban itu dipersembahkan di lima tempat penyembelihan itu. Namun sloka 69 menyatakan bahwa untuk menebus dosa, setiap kepala keluarga digariskan untuk melakukan panca yadnya. Ini artinya, persembahan banten saiban itu bukanlah semata-mata di lima tempat penyemblihan tersebut, namun digariskan agar orang melakukan panca yadnya setiap harinya. Dalam wujud ritual, masai ban adalah bentuk pelaksanaan panca yadnya dalam bentuk banten yang kecil atau inti saja. Oleh karena panca yadnya yang digariskan. maka banten saiban itu dapat dipersembahkan sampai ke sanggah merajan dan tempat-tempat lainnya di rumah tinggal keluarga. Sebagaimana dinyatakan dalam sloka Manawa Dharmasastra III,717, keluarga boleh makan setelah melakukan persembahan kepada Dewa manifestasi Tuhan yang Mahaesa, kepada Resi, kepada Dewa Pitara atau roh suci leluhur yang telah mencapai Siddha Dewata, kepada penjaga spiritual rumah tinggal (hulu pekarangan) dan kepada Atithi atau tamu. Dalam sloka 118 dinyatakan, barang siapa menyiapkan makanan hanya untuk dininya sendini sebenarnya ia memakan dosa. Kitab suci itu menetapkan, makanan suci itu adalah makanan yang telah dipersembahkan dalam upacara yadnya seperti banten saiban itu. Makan yang demikian itulah makanan orang-orang bijaksana. Apa yang dinyatakan dalam beberapa sloka ManaWa Dharmasastra dan Bhagawad Gita itu penn dijabarkan lebih dalam. Hal-hal tersebut seyogianya dipahami sbagai suatu konsep hidup yang baik, benar dan wajar. Konsep hidup yang dikandung dalam upacara masaiban itu adalah konsep yang mendorong kita agar bekerja dengan baik, benar dan wajar terlebih dahulu kemudian hasil kerja itulah yang kita makan. Konsep ini sangat tepat di segala zaman. Jangan seperti orang yang ingin mendapatkan banyak rezeki tetapi tanpa bekerja. Dalam kearipan lokal Bali ada disebut “ngayah dulu baru dapat catu atau hasil”. Makanya ada yang disebut “catu tanpa ayah”, artinya dapat hasil tanpa kerja. Artinya, ada masyarakat yang bekerja tetapi tidak mendapatkan hasil. Ini artinya, maknailah upacara masaiban itu dengan mengembangkan etos kerja yang baik. Etos kerja yang baik itu adalah etos kerja yang profesional dari para pekerja mendapat perlakuan yang adil dan sistem kerja yang ditetapkan oleh kebijakan Pemerintahan Negara. Semoga dengan memaknai upacara masaiban ini kita bisa meningkatkan sikap jujur dan adil dalam kerja. Jangan hanya menyerahkan semua urusan kita pada Tuhan. Mohonlah karunia Tuhan dengan bekerja berdasarkan jnyana atau ilmu pengetahuan sebagai wujud bakti kita pada Tuhan.

Friday, 2 July 2010

DAFTAR PENDHARMA WACANA DI PURA PURA DI SIDOARJO

Semester I tahun 2010 telah berakhir, kita menginjak ke Semester II 2010. Untuk itu telah kami susun Daftar Perdharma Wacana di Pura Jala Siddhi Amertha dan Pura Penataran Agung Margowening Krembung untuk Semester II Tahun 2010. Silahkan dilihat disebelah kiri. Terima kasih. (Phdi Sda)

Sunday, 6 June 2010

PARISADA SIDOARJO AKAN MENGADAKAN UPACARA POTONG GIGI MASAL


Kemarin tgl. 6 Juni 2010 Jam 19.00 wib Parisada Sidoarjo mengadakan rapat pembentukan Panitia Potong Gigi Masal. Disepakati sebagai Ketua Panitia adalah Letkol. Laut I Ketut Sumerta. Acara Potong Gigi Masal tersebut rencana akan diadakan berdekatan dengan hari Piodalan di Pura Jala Siddhi Amertha yang jatuh pada tgl. 4 September 2010, namun tanggal kepastian masih menunggu Panitia tangkil ke Ida Pandita Kenjeran. Diperkirakan sekitar tanggal tersebut para siswa sudah libur menjelang lebaran yang jatuh pada tgl. 11 September 2010 sehingga tidak terlalu mengganggu kegiatan sekolah. Diharapkan para Ketua Sektor atau Pengurus Sektor segera melakukan sosialisasi tentang rencana Potong Gigi masal ini. Biaya yang dikenakan kepada peserta sangat tergantung kepada jumlah peserta potong gigi, namun ancer-ancer sementara sekitar Rp.500.000,- perorang. Bagi umat Hindu yang sudah ada keinginan untuk ikut Potong Gigi masal ini dapat langsung mendaftarkan diri ke Ketua Sektor masing-masing. Dalam rapat tersebut disepakati juga bahwa orang tua dari peserta potong gigi juga ikut sebagai panitia. Semoga Hyang Widhi senantiasa memberi kemudahan kita dalam melaksanakan Yadnya yang sangat mulya ini. (Mr.Pink)

Wednesday, 26 May 2010

DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA TINGKAT SMA/SMK/MA

Pertempat di Pendopo Bupati Sidoarjo tgl. 25 Mei 2010 kemarin lalu diadakan Dialog Antar Umat Beragama tingka SMA/SMK/MA. Acara tersebut dibuka langsung oleh Bupati Sidoarjo sekitar jam 09.00 pagi. Dalam sambutannya Pak Win sangat mendukung Pluraisme, kebersamaan dan kerukunanan antar umat beragama. Dalam acara tersebut ditampilkan 5 orang pemakalah dari masing-masing agama yang ada yaitu : Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Pemakalah dari Islam langsung diisi oleh Ketua Umum MUI Jatim, dari Budha tampil Pak Nugroho dari Walubi Sidoarjo dari Protestan tampil Pendeta Codet Sudarmono dan dari Katolik juga ada. Sedangkan dari Hindu tampil I Gusti Ketut Budiartha S.Ag. Pak Gusti dapat giliran tampil no. 2 setelah Budha. Beberapa hal yang disampaikan pak Gusti adalah hal-hal yang selama ini kurang dipahami oleh umat lain atau bahkan sering menjadi bahan lecehan. Ada 5 hal pokok yang disampaikan Pak Gusti yaitu :
  1. Apakah Hindu Agama Wahyu. Wahyu diturunkan Brahman/Tuhan sekitar abad 2500-1500 SM dilembah sungai Sindhu di India, diterima oleh 7 orang Rsi, kemudian setelah ada tulisan dikompulir oleh Rsi Wyasa bersama 4 orang muridnya sehingga terbentuklah Kitab Sucii Weda yang kita kenal sekarang ini.

  2. Hindu dalam bersembahyang menggunakan Sesajen. Ini mengacu kepada doktrin yang tertuang dalam sloka BG. IX.26 : Siapapun yang dengan sujud bhakti kepada KU mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan dan seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

  3. Hindu tidak menyembah Berhala/Patung. Ini merupakan doktrin yang tertuang dalam Kita Suci BG. XII.5 : Bagi mereka yang pikirannya yang dipusatkan kepada Yang Tak terwujud, kesulitannya lebih besar, karena sesungguhnya dari Yang Tak termanifestasikan sukar dicapai oleh orang yang mempunyai badan jasmani.

  4. Hindu penganut Monotheisme. Ini dapat dijelas dengan mantram : Eka Evam Adwityam Brahman, Tuhan itu satu tak ada duanya. Juga dalam mantram Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanty, Tuhan itu satu orang bijaksana memanggil dengan banyak nama.

  5. Hindu cinta kebersamaan dan mendukung Pluralisme. Ini dapat dijelas dengan doktirn Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, ada juga Tat Twam Asi, ada juga doktirn Wasudewa Kutumbakam.

Astungkara apa yang disampaikan pak Gusti cukup memukau dibumbui dengan joke-joke remaja masa kini, antara lain soal Facebook dsbnya. Semoga kedepan kita bisa tampil lebih baik. (Mr Pink)