PHDI SIDOARJO

Tuesday, 27 November 2012

Perjalanan Tirthayatra Ida Pandita Panji Sogata

Ida Pandita Panji Sogata (lanang istri) beserta 10 orang  Pinandita Sanggraha Nusantara DKI Jakarta dengan ketua Pemangku Dewa Suardana,  seorang sarati banten dan seorang driver melaksanakan Tirthayatra dari Jakarta ke beberapa Pura di Jawa Timur. Tiba di Pura Kertabumi Desa Wongso Gresik tgl. 24 Nop 2012 siang hari. Kemudian perjalan suci ini dilanjutkan menuju Pura Penataran Agung Margowening Desa Krembung Sidoarjo. Di Pura ini para Yatri melaksanakan Dharmatula sampai jam 03.00 dini hari, ditemani oleh Ketua Parisada Sidoarjo Pak Nyoman Anom Mediana. Kemudian tgl. 25 Nop 2012 Thrtayatra dilanjutkan ke Pura Ponten Bromo, terus ke Petilasan Jolotundo terus ke Mojokerto. Demikian sedikit informasi tentang para Yatri dari Jakarta. Semoga Tirthayatra ini memberikan vibrasi yang positif kepada para Yatrinya.

Thursday, 18 October 2012

Pura Nirwana Jati Sidoarjo Memiliki Gamelan Baru



Pura Nirwana Jati terletak di Dusun Sekelor, Kecamatan Balong Bendo Sidoarjo. Pura ini disungsung oleh kurang lebih 16 KK Umat Hindu asli etnis Jawa. Dalam pembangunannya, Pura ini mengalami proses yang cukup berliku, akhirnya astungkara Pura ini dapat berdiri dan selesai tahun 2011. Pura ini dipimpin oleh seorang pemangku asli Jawa yaitu Mangku Sampan. Dalam persembahyangan Tilem 15 Oktber 2012, Pura ini mendapat sumbangan 1 set (1 barung) Gong Jawa dari Ketua PHDI Kab. Sidoarjo, Bapak Ir. Nyoman Anom Mediana. Dalam sambutannya Anom Mediana menyampaikan bahwa dana pembelian Gong ini bersumber dari sumbangan berbagai pihak, dimana yang terbesar adalah dari dana punia Umat Hindu Sidoarjo, semoga Gamelan/Gong Jawa ini dapat digunakan untuk mengembangan seni budaya setempat sekaligus untuk pelengkap dalam ritual upacara keagamaan. Untuk pertama kali kemarin, Parisada sengaja mendatangkan juru tabuh gamelan yang sudah mumpuni untuk memberi latihan kepada Umat Hindu di Pura Nirwana Jati Sekelor ini. Ikut hadir pada kesempatan tersebut  Ketua WHDI Sidoarjo Ibu Diun Rahmawati sekaligus menyampaikan sumbangan  15 pasang sepatu titipan dari Bpk Gede Sunantara. Semoga dengan adanya Gamelan Gong Jawa ini dapat mempererat kerukunan umat beragama disekitarnya yang mayoritas muslim dan Umat Hindu di Desa tersebut. Om, loka samasta sukino bhawantu semoga alam semesta sejahtera adanya.

Thursday, 13 September 2012

LAPORAN KUN-KER FKUB KAB. SIDOARJO KE MANADO

Om Swastyastu,
Sesuai dengan program kerja FKUB Kab. Sidoarjo khususnya tentang kun-ker  ke Manado pada tgl 10 s.d 12 September 2012, dapat saya informasikan sbb:
  1. Daerah yang dikunjungi adalah  Kota Tomohon dan Kota Manado, Propinsi Sulut.
  2. Dengan mayoritas umat Nasrani, kerukunan umat beragama berjalan dengan sangat baik dan perhatian pemerintah bagus sekali. Local genius sebagai pengikat kerukunan dikenal istilah "TORANG  SAMUA BASUDARA" dengan arti  kita semua adalah bersaudara,  dalam istilah Hindu kita mengenal " VASUDEVA KUTUMBAKAM''.
  3. Untuk kota Tomohon, umat Hindu hanya 18 jiwa (sebagian besar siswa/mahasiswa) sehingga
    kalau sembahyang mereka datang ke  Tondano atau Manado. Sedangkan di Kota Manado ada sekitar 1500 jiwa, dengan 2 Pura dan akan dibangun lagi 3 Pura.
  4. Salah satu lokasi yang dikenal dengan Bukit Kasih, telah berdiri tempat suci secara berdampingan dan rencananya di Rumah Sakit di Kota Manado akan dibuat serupa yaitu seluruh tempat ibadah semua agama akan dibangun sebagai fasilitas bagi pegawai, pasien maupun keluarga pasien. 
  5. Untuk Pura Jagadhita yang berlokasi di Desa Kaas, luasnya lebih dari 1 HA dan lokasinya diperbukitan dengan pemandangan yang sangat indah. Saya sempat berdiskusi dengan Bp. Putu Tunas (Ketua yayasan sekaligus pengurus FKUB) saat tangkil di malam hari di Pura Jagadhita, umat sedang membangun Balai Banjar dan latihan badminton.  Terdapat juga Gong dan pasraman untuk siswa yang sekolah Minggu. 
  6. Tidak lupa, Pulau Bunaken sebagai objek wisata dengan lebih dari 14.000 speciaes  ikan yang hidup di taman laut nan indah.
Demikian sekilas kun-ker yang saya alami. Lebih lengkapnya jika ada waktu dan kesempatan, bisa kita laksanakan bersama di lain hari.
Om Santih Santih Santih OM
Nyoman Anom M ( Ketua PHDI Kab. Sidoarjo)

Saturday, 25 August 2012

Philosofi Rangkaian Galungan Dalam Kekinian

Cukup banyak umat Hindu yang di luar Bali khususnya, menanyakan tentang makna dan philosofi suatu hari raya. Pertanyaan tersebut antara lain, mengapa terkesan dalam pelaksanaan hari raya Hindu lebih mengedepankan ritual dari pada realitas. Bahkan saking focusnya kepada ritual, sehingga sering makna dan philosofi dalam realita kehidupan terpinggirkan. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, antara ritual dan realita harus seimbang, karena kita hidup dalam lingkungan heteroginitas. Walaupun Agama itu adalah suatu prosesi hubungan manusia dengan Tuhan, namun hubungan secara horizontal manusia dengan manusia tidak dapat dikesampingkan.

Bagaimanakah cara pandang kita dalam rangkaian Hari Raya Galungan di era globalisasi seperti sekarang ini. Marilah kita coba memulai dari H-6 :
  1. H-6 Galungan, Hari Kamis, disebut dengan Sugian Jawa, Jawa=jaba=luar artinya kita melakukan penyucian diri di luar diri kita, dalam hal ini adalah lingkungan kita seperti : halaman rumah, pura dsbnya. Secara riil kita melakukan bersih-bersih di lingkungan kita. Secara ritual kita membuat banten abhiyakala, dan segehan sebagai caru, kemudian kita haturkan sekaligus melakukan persembahyangan bersama keluarga.
  2. H-5 Galungan, Hari Jumat, disebut dengan Sugian Bali, bali=kembali=diri kita sendiri. Artinya kita melakukan penyucian diri kita sendiri, secara riil kita bisa melakukan mandi keramas kemudian melakukan meditasi. Secara ritual kita membuat banten Prayastita, kemudian kita sembahyang bersama keluarga.
  3. H-3 Galungan, Hari Minggu, sesuai lontar Sundarigama, kita akan kedatangan Butha Galungan, yang akan berusaha mengganggu kehidupan kita. Di hari ini kita seharusnya sudah mulai "ngeret indriya" atau pengendalian diri dengan menghindari SAD RIPU.
  4. H-2 Galungan, Hari Senin : Butha Dungulan sudah menyerang kita, maka kita harus lebih waspada lagi dengan meningkatkan "pengendalian diri" dari SAD RIPU.
  5. H-1 Galungan, Hari Selasa : Butha Amangkurat akan berusaha mengalahkan diri manusia. Hari ini sering disebut dengan Hari Penampahan, nampah=nampeh=mematikan segala yang terkandung dalam SAD RIPU.
  6. Hari H Galungan, jika kita sudah lolos dalam gangguan butha-butha sebelumnya, maka kita layak merayakan Hari Raya Galungan. Secara riil kita rayakan dengan bersenang-senang, membuat masakan yang enak kemudian kita nikmati bersama-sama, dan juga ngejot kepada tetangga kita khususnya kepada yang tidak mampu. secara Ritual kita membuat banten Galungan, Daksina Pejati, Sodaan dsbnya untuk kita haturkan pada saat persembahan bersama.
Akan lebih lengkap jika kita mampu menjalankan upawasa pada H-3 sampai dengan H-1, sebagai wujud nyata "ngeret indriya" atau pengendalian diri. Semoga tulisan ini ada manfaatnya.