Alamat : Pura Jala Siddhi Amertha, Jln. Raya Juanda, Kompleks Marinir TNI-AL, Sidoarjo. No.Flexi : 031-70950202. No.Hp : 08123015299, 08123221376. Web http://parisada-sidoarjo.blogspot.com, Email : parisada.sda@gmail.com
PHDI SIDOARJO
Sunday, 20 December 2009
TATA SUSILA DAN BUDHI PEKERTI
Tapi sebelumnya simaklah Sloka – Sloka dibawah ini :
Swasti pantham anu carema
Surya candramasav iva
Punar dadatagh nata
Janata sam gamemahi
Rg. Veda V. 51.15
Artinya :
Mari kita terus berjalan pada jalan yang benar seperti jalannya Matahari dan Bulan. Kita seharusnya bergaul dengan orang – orang yang bermurah hati, bijaksana dan berpengetahuan tinggi.
Aristah sa marto visva edhate
Praparjabir jayate dharmanas pari
Yam adtyasonayotha sunitibhir
Ati visvani durita svastaye
Rg. Veda X. 63.13
Artinya :
Wahai Dewa Matahari, semua umat manusia yang engkau alihkan dari jalan kejahatan, menempuh jalan yang berbudhi diberkahi dengan kemakmuran dan juga dilimpahi dengan ketyrunan (generasi) yang berbudhi luhur, berkat sikap keagamaan mereka.
Pengertian Tata Susila dan Budhi Pekerti
Dalam bahasa Jawa kono, kata ‘Tata’ berarti aturan, sedangkan ‘Susila’ yang merupakan gabungan partikel ‘su’ yang berarti baik (dalam bahasa Sansekerta) dan ‘Sila’ yang berarti tingkah laku . Jadi Tata Susila berarti aturan tingkah laku yang baik.
Sedangkan kata ‘Budhi Pekerti’ berasal dari akar kata ‘Budhi yang berarti kebaikan. Budhi (intelek) berarti kemampuan membedakan hal yang baik dengan yang buruk, membedakan perbuatan yang patut dengan yang tidak patut, ucapan yany patut diucaokan dengan yang tidak patut diucapkan . ‘Pekerti’ berarti Perilaku. Jadi ‘Budhi Pekerti’ berarti perilaku yang bisa membedakan perbuatan, perkataa, dan pemikiran yang baik dang yang tidak baik.
Dengan demikian Tata Susila mempunyai kaitan yang erat sekali dengan Budhi Pekerti yang berarti tingkah laku yang baik. Orang yang berbudhi pekerti baik pasti melaksanakan tata susila dengan konsisten. Contohnya : Bila dia seorang Pelajar, maka dia akan menurut perintah- perintah Gurunya serta aturan yang diterapkan di sekolahnya, dan bila dia seorang anggota masyarakat, pasti dia akan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
Tata Susila dan Budhi Pekerti seharusnya sudah mulai diajarkan sejak masa anak-anak. Ketika anak-anak sudah bisa berkomunisasi dengan orang-orang disekitarnya, mulailah mereka diajarkan tentang bagaimana berbicara, berbuat dan berfikir yang baik. Tata Susila dan Budhi Pekerti harus diamalkan seumur hidup. Dan adapun tujuan kita mengetahui, menghayati dan melaksanakan tata Susila dan Budhi Pekerti adalah:
1. Menuntun seseorang untuk memproleh kesatuan antara Jiwatman dengan Hyang Widhi melalui perasaan yang tenang dan tentram sehingga diproleh kebahagiaan yang kekal dan abadi.
2. Membina watak manusia menjadi anggota keluarga yang baik, anggota masyarakat yang baik dan menjadi putra Bangsa yang berbudhi mulia dalam upaya untuk meraih kehidupan yang berbahagia.
3. Membina hubungan yang serasi dan selaras antara sesama , baik dalam lingkungan keluarga, tetangga, ditempat kerja, masyarakat, Bangsa bahkan dengan alam sekitarnya.
Dalam hidup ini bila tidak diterapkan Tata susila dan Budhi Pekerti, maka kejadian-kejadian buruk seperti perkelahian , mabuk-mabukan, narkoba, kecelaan lalu lintas dan lainnya akan tak terkendalikan. ( oleh : Nyoman Sudiarta- Sda)
Monday, 14 December 2009
Pandangan Hindu Tentang Kiamat
Kami coba membaca beberapa buku sastra Hindu yang ada, sudah dibolak-balik ternyata istilah "Kiamat" tidak ditemukan. Namun jika Kiamat itu diterjemahkan dengan arti mati (seluruh isi alam) maka padanan yang pas yang ada di dalam sastra kita adalah Pralina atau Pralaya. Hampir semua buku Purana menyebutkan atau membahas masalah Tri Kona yaitu : Utpati (lahir), Stiti (hidup), Pralina (mati). Semua isi alam ini akan melalui proses Tri Kona. Dengan demikian maka alam beserta isinya pun akan mengalami proses peleburan atau kematian. Pertanyaan yang akan timbul : kapan alam ini akan pralina (maha pralina) atau pralaya (maha pralaya)? Apakah benar alam ini akan kiamat tahun 2012? Mari kita coba telusuri sesuai dengan sloka sloka yang ada dalam sastra Hindu.
Dalam Ba\hagawad Githa dan Brahmanda Purana sangat jelas disebutkan bahwa usia alam ini disebut dengan istilah 1 hari Brahman atau 1 Kalpa. 1 Kalpa terdiri dari 14 Mawantara. 1 Mawantara terdiri dari 71 Maha Yuga. 1 (satu) Maha Yuga terdiri dari :
- Jaman Kertha Yuga lamanya 1.728.000 tahun
- Jaman Tretha Yuga lamanya 1.296.000 tahun
- Jaman Dwapara Yuga lamanya 864.000 tahun
- Jaman Kali Yuga lamanya 432.000 tahun
Jadi total 1 Maha Yuga lamanya 4.320.000 tahun.
Saat ini kita berada di jaman Kali Yuga, konon Jaman Kali Yuga mulainya bersamaan dengan Parikesit dinobatkan sebagai Raja Astina yaitu sekita 3102 tahun SM. Jika kita tambahkan dengan 2009 maka Jaman Kali Yuga baru berjalan selama 5.111 tahun. Jika alam ini hanya berusia 1 Maha Yuga saja, maka sisa umur alam ini 432.000 tahun - 5.111 tahun = 426.889 tahun, sungguh waktu yang masih sangat panjang.
Bagaimana jika meyakini bahwa usia alam ini 1 Kalpa maka usia alam ini = 1 x 14 x 71 x 4.320.000 = 4.294.080.000.
Menurut Brahmanda Purana bahwa kita saat ini berada di Mawantara ke 7 (pertengahan), dengan demikian maka sisa usia alam ini adalah = 1/2 x 4.294.080.000 = 2.147.040.000 tahun, sungguh waktu yang masih sangat lama sekali.
Dengan demikian saya mengajak umat Hindu dimana pun berada untuk senantiasa meningkatkan Sradha dan Bhakti kepada Hyang Widhi, meningkatkan perbuatan baik, sehingga setiap saat kita sudah siap kapanpun Hyang Widhi menghendaki kita untuk berpulang kepadaNYA. Berbuat baik tidak harus menunggu kiamat, akan tetapi laksanakan setiap saat dan setiap waktu. (IGKB).