Alamat : Pura Jala Siddhi Amertha, Jln. Raya Juanda, Kompleks Marinir TNI-AL, Sidoarjo. No.Flexi : 031-70950202. No.Hp : 08123015299, 08123221376. Web http://parisada-sidoarjo.blogspot.com, Email : parisada.sda@gmail.com
PHDI SIDOARJO
Wednesday, 23 February 2011
Proposal Pembangunan Wantilan dan Pashraman
Wednesday, 16 February 2011
Kabupaten Sidoarjo menyabet Juara Umum II

Selengkapnnya Medali yang diperoleh oleh Kontingen Kabupaten Sidoarjo sbb :
JUARA I (MEDALI EMAS) :
1. Ni Putu A. Septiandari
2. I Dewa Agung Ayu Dian O.
PALAWAKYA REMAJA PUTRI
1. Made Dwipayani
2. Ni Made Ayunda Darma Tirsani
SLOKA REMAJA PUTRI
1. I Dewa Agung Ayu Tri Laksmi
2. Desak Ayu Awatari Widi
JUARA II (MEDALI PERAK) :
PALAWAKYA REMAJA PUTRA
1. I Made Krisna Dwi Suputra
2. Putu Krishnanda Supriyatna
PALAWAKYA REMAJA PUTRI
1. I Gusti Ayu Feronicha
2. Kadek Ayu Chandra Dewi
SLOKA REMAJA PUTRI
1. Ni Luh Mahariani
2. Ayuni Dina Sawitri
JUARA III (MEDALI PERUNGGU) :
PALAWAKYA REMAJA PUTRA
1. Putu Agus Jegantara Wiguna
2. Bagus Adhyana Deva
SLOKA REMAJA PUTRA
1. Made Dias Pamara
2. I Putu Asev Mahardika
DHARMA WACANA REMAJA PA.
1. Ketut Adi Ananta Santika
DHARMA WACANA REMAJA PI.
1. Rachma Cintya Devi
Monday, 13 December 2010
PHDI KABUPATEN SIDOARJO MENGADAKAN UTSAWA DHARMA GITHA
Berikut ini hasil-hasil Utsawa Dharma Githa tersebut :
BIDANG LOMBA :
I. PALWAKYA DEWASA :
1. WARU
2. DELTASARI
3.GEDANGAN2
II. PALAWAKYA REMAJA PUTRI :
1. DELTASARI
2. GEDANGAN
3. TROPODO
III. PALAWAKYA REMAJA PUTRA :
1. KOTA
2. WARU2
3.CANDI1
IV. SLOKA REMAJA PUTRI :
1. GEDANGAN
2. DELTASARI
3. TROPODO
V. SLOKA REMAJA PUTRA :
1. SEKELOR
2. WARU3
3. PASRAMAN JSA
VI. DHARMAWACANA :
1. CANDI2
2. CANDI1
3. STHD
VII. MENGHAFAL MANTRA WEDA :
1. PASRAMAN EMPU BHARADAH
2. TROSOBO
3. TROPODO
VIII. KIDUNG :
1. WARU
2. KOTA
3. STHD
Sunday, 5 December 2010
SEBUAH HARAPAN PERAYAAN GALUNGAN KE DEPAN
Kalau kita bertanya kepada umat kita secara umum, apa itu Hari Raya Galungan ? Hampir semua bisa menjawab bahwa Hari Raya Galungan adalah Hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Namun kalau kita bertanya lagi, Adharma yang mana yang sudah kita kalahkan sehingga kita berani-beraninya merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma? Hampir semua diam, tidak menjawab.
Ini satu bukti bahwa sosialisasi Galungan belum dipahami secara baik dan mendalam oleh umat kita. Perayaan Galungan baru sebatas memperingat, belum sampai mengamalkan. Bahkan hampir sebagian besar umat Hindu, justru pada dua hari atau sehari sebelum Galungan, melakukan pemotongan hewan secara besar-besaran untuk keperluan pesta pora.
Agak berbeda dengan Hari Raya Nyepi. Filosofi dan Etika Hari Raya Nyepi sudah sedikit mendalam dipahami oleh umat kita secara keseluruhan. Kalau kita tanya umat kita, Hari Raya Nyepi itu hari apa? Maka jawaban nya bahwa Hari Raya Nyepi adalah Hari Raya untuk melaksanaan Catur Berapa Penyepian yaitu : Amati Geni, Amati Karya, Amati lelanguan dan Amati lelungan. Dan Catur Beratha Nyepi ini telah mulai dilaksanakan secara baik oleh umat Hindu, walapun masih ada kekurangan disana-sini.
Bagaimana dengan Hari Raya Galungan, apakah ada etika atau susila yang harus di lakukan di Hari Raya Galungan? Jawabannya ada :
1. Pertama, tiga hari sebelum Galungan, kita dikatakan kedatangan Butha Galungan, dimana pada hari ini Bhuta Kala baru tingkat hadir kepada kita. Artinya kita mulai : Anyekung Jnana, mensinergikan potensi diri dan mulai melakukan pengendalian indriya. (Sering disebut Panyekeban yaitu nyekeb indriya agar tidak berkeliaran)
2. Kedua, dua hari sebelum Galungan kita akan diganggu dengan Butha Dungulan, dimana Butha Kala ini sudah mulai berani menyerang kita. Artinya kita melanjutkan tapa barata dan pengendalian diri dengan sungguh-sungguh (Penyajaan, saje=sungguh2)
3. Ketiga, sehari sebelum Galungan, dikatakan kita diganggu oleh Butha Amangkurat, dimana Butha Kala sudah berusaha untuk menguasai diri kita. Mengandung makna kita harus mampu mengalahkan semua Butha yang mengganggu (Penampahan, nampeh=mematikan=membunuh segala macam Sapta Timira dan Sad Ripu)
Kemudian terakhir pada Hari Raya Galungan barulah sesungguhnya kita mengadakan rasa angayu bagya, pesta, membuat makanan yang enak-enak sembari sembahyang dan bersyukur.
Sayangnya yang terjadi saat ini, justru pada hari sebelum Galungan dimana kita harus Anyekung Jnana, mengendalikan hawa nafsu, malah kita sudah mengadakan pesta pora, Jika dikaitkan dengan sastra tersebut, sesungguhnya yang demikian tidak layak merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma.
Demikian sedikit renungan, mudah-mudahan secara pelan tapi pasti kita dapat mengamalkan Galungan sengan baik sesuai dengan tuntunan sastra yang ada. Semoga Hyang Widhi senantiasa memberi anugrah kepada kita sekalian.